Sabtu, 24 Mei 2014

KODE ETIK ASOSIASI RUQYAH SYAR'IYYAH INDONESIA


ARSYI
KODE ETIK
ASOSIASI RUQYAH SYAR’IYYAH INDONESIA
(ARSYI)
MUQODDIMAH
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji dan syukur bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al- kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan penyimpangan di dalamnya. Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW serta keluarga, sahabat dan pengikut yang istiqomah di jalannya.
Sesungguhnnya tidak ada keraguan lagi bahwa berobat dengan al-Qur’an dan doa-doa yang bersumber dari Rasulullah SAW (ruqyah syar’iyyah) merupakan pengobatan yang manjur dan berpahala (bernilai ibadah).
Allah swt berfirman: “Katakanlah Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin”. (QS: Fushshilat: 44)
Sehat adalah suatu hal yang didambakan oleh setiap manusia. Meski sehat memang bukanlah segalanya, namun tanpa sehat “segalanya “ itu tiada arti .

Banyaknya orang karena sesuatu hal, mereka berobat dan melakukan pengobatan dengan cara-cara yang  tidak dibenarkan oleh Allah dan rasul-Nya, yang saat ini banyak digandrungi pengobatan alternatif yang menggunakan energi makhluk lain (meminta bantuan kepada  jin, ilmu-ilmu sihir, perdukunan, tenaga dalam dan lain-lain),  Sehingga dia mampu memindahkan penyakit ke hewan atau makhluk-makhluk Allah yang lainnya, memperdayai orang sakit dengan meminta imbalan yang sangat mahal dan cenderung memberatkan.
Kesadaran akan hal ini dan untuk meluruskan aqidah dari penyakit syirik, ruqyah syirkiyah, pengobatan yang mengaku-ngaku sesuai syariat padahal menyimpang dari syariat itu sendiri. Oleh karena itu agar Setiap anggota ARSYI/peruqyah khususnya anggota ARSYI mendapat pembekalan dan arahan-arahan dalam menunjang profesinya dengan harapan tidak terjadinya mall praktek dalam pengobatannya serta tidak menjadikan profesinya semata-mata mencari kekayaan pribadi. Maka dengan ini kami para mu’alij telah merumuskan kode etik ruqyah syar’iyyah indonesia yang diuraikan dalam pasal-pasal sebagai berikut.

Senin, 25 November 2013

Ruqyah, Dialog Dengan Jin Setan dan Cara Menangkap Jin Secara Islami








Kali ini kami akan menyajikan beberapa video tentang Ruqyah di Eropa dan dialog dengan para jin di sana.

Ternyata gangguan jin, sihir dan setan tidak cuma marak terjadi di tanah air kita Indonesia ini. Namun di negara-negara barat pun banyak masyarakat yang mengalami gangguan ghaib seperti ini.

Sabtu, 09 Maret 2013

Iblis Lebih Takut Kepada Orang Yang Berilmu Dibanding Ahli Ibadah






Diriwayatkan bahwa seseorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di biaranya yang terletak di atas gunung.

Pada suatu hari sebagaimana bisa dia keluar dari tempat ibadahnya untuk berkeliling merenungkan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala di sekitar tempat ibadahnya. Di sela-sela dia berkeliling ini, dia melihat di jalan sesosok manusia yang menebarkan bau tidak sedap darinya. Ahli ibadah itu berpaling menuju ke tempat lain, sehingga dia terlindungi dari tercium bau ini. Ketika itu setan menampakkan diri dalam bentuk seorang laki-laki shalih yang memberi nasihat.

Setan berkata kepadanya, “Sungguh amal-amal kebaikanmu telah menguap (sirna), dan persediaan amal kebaikanmu tidak dihitung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Lantas si ahli ibadah persediaan amal kebaikanmu tidak dihitung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Lantas si ahli ibadah bertanya, “Mengapa?” Dia menjawab, “Karena engkau enggan mencium bau anak cucu Adam semisal kamu.” Ketika wajah si ahli ibadah terlihat sedih, setan pun pura-pura merasa kasihan dan memberinya nasihat, “Jika engkau ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kesalahanmu, saya akan memberi nasihat kepadamu agar engkau mencari tikus gunung, lalu engkau gantungkan tikus itu di lehermu seraya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sepanjang hidupmu. Si ahli ibadah yang bodoh ini pun melaksanakan nasihat setan yang sengaja mencari kesempatan ini. Selanjutnya, si ahli ibadah memburu tikus gunung. Dia pun terus-menerus beribadah dengan membawa najis dari enam puluh tahun sampai dia meninggal dunia (semua ibadahnya pun tidak sah).

terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengomentari kisah tersebut, “Suatu masalah ilmiah –atau majelis ilmu- lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun.”

Kamis, 07 Maret 2013

Membentengi Diri dari Sihir

Saya seorang ibu rumah tangga yang telah menjalani pernikahan selama 17 tahun, dan telah dikaruniai 6 anak. Selama 17 tahun berumah tangga, hanya 5 tahun saya hidup bahagia. Selebihnya, saya jadi benci kepada suami saya. Saya tidak suka dia berhubungan dengan saya sebagaimana hubungan suami istri. Saya merasa tidak sanggup tidur bersamanya. Saya mengira semua ini karena pengaruh sihir, maka untuk menanggulanginya saya pergi ke tukang sihir dan “orang tua pintar”.

Mereka memberi saya beberapa jimat, namun saya tidak mendapatkan manfaat apapun darinya. Sebenarnya saya tidak percaya dengan seorangpun dari mereka. Saya juga pergi ke para dokter ahli jiwa (psikiater), namun juga tidak mendapat faedah apa-apa. Saya menginginkan suamiku dan tidak menginginkan seorangpun selainnya. Namun rumah tangga saya hampir hancur. Apa yang harus saya lakukan -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi anda-?

Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullaah menjawab dengan cukup panjang sebagai berikut: